Mengungkap isu kemasan yang masih tabu – Kemasan pangan sudah menjadi isu global yang dianggap masih tabu. Sejak tahun 2007 – an, industri ritel di negara – negara barat telah mengakui sertifikasi keamanan pangan yang di selenggarakan oleh pihak ketiga. Standar ini telah diterapkan secara luas yakni, dengan dikeluarkannya sertifikasi ISO atau yang biasa kita kenal food safety standards.

Mengungkap isu kemasan yang masih tabu !

Di Indonesia sendiri, standar makanan tersebut masih terbilang “ abu – abu “. Mengingat banyaknya pelaku bisnis pangan di tingkat UMKM (usaha mikro kecil dan menengah ) yang berdiri tanpa adanya proses birokrasi. Sehingga untuk cetak kemasan makanan pun mereka masih menggunakan bahan yang tidak standar untuk membuatnya.

Pada dasarnya memang pelanggan berhak mendapatkan kualitas yang terbaik , entah dari segi makanannya ataupun segi kemasannya sesuai dengan harga yang telah dibayarkan. Namun hal ini terbilang relatif, masih banyak segelintir pengusaha nakal yang hanya mementingkan keuntungan dengan cetak kemasan makanan yang sembarangan.

Penggunaan bahan baku berkualitas, serta keamanan kemasan makanan menjadi value yang bisa “dijual “ sebagai salah satu metode pemasaran. Publikasi dua aspek tersebut dibilang dapat meningkatkan brand image dibenak masyarakat.

Selama ini kita mengenal beberapa material yang lazim digunakan sebagai cetak kemasan makanan di hampir semua level bisnis makanan diantaranya, styrofoam, plastik, dan kertas dalam bentuk box dan lembaran. Kendati keamanannya yang tidak terjamin, bahan – bahan ini digunakan secara luas dikarenakan faktor harga yang murah serta banyak tersedia di pasaran dalam jumlah skala yang cukup besar.

Syarat kemasan aman digunakan

Sebelum kita cetak kemasan makanan, perlu diketahui terdapat beberapa kriteria yang ada didalamnya apakah saja itu ?. Baiklah jangan tunggu lama – lama lagi kita simak saja, berikut beberapa syarat kemasan makanan dapat dikatakan aman digunakan :

Pertama, yang perlu kalian ketahui adalah kemasan tersebut tidak mengandung senyawa berbahaya seperti, benzene, styrene, ( bahan baku styrofoam ), dan senyawa berbahaya lainnya.

Kedua, kemasan patut bebas dari kandungan bakteri, seperti yang banyak ditemukan didalam bahan baku kertas daur ulang. Maka, untuk kalian semua saya himbau jangan pernah cetak kemasan makanan menggunakan bahan dari limbah daur ulang terkecuali, sudah mengalami sterilisasi yang mendalam.

Ketiga, yang pasti kemasan harus ramah lingkungan, dapat terurai dengan mudah di alam bebas misalnya, seperti bahan dasar serat alami (virgin fiber ).

Keempat, ini merupakan point yang paling penting. Sebelum kalian cetak kemasan makanan, pastikan bahan baku yang kalian gunakan merupakan food grade. Food grade merupakan standar kemasan yang baik untuk digunakan pada makanan. Ciri – ciri kemasan ini adalah berwarna putih, tidak berbintik, bahan panas dan tidak tembus minyak karena mengandung lapisan yang aman untuk pangan.

Salah satu perusahaan ternama yang menyediakan layanan cetak kemasan makanan food grade merupakan tab-packaging. Mereka selalu menggunakan bahan yang berkualitas untuk mencetak kemasan makanan.

Di Indonesia keamanan food packaging ini belum terstandarisasi oleh negara, bahkan belum pula menjadi tren di masyarakat yang bisa memaksa para pelaku usaha untuk menerapkannya. Mengingat material kemasan yang memiliki empat syarat di atas masih tergolong mahal, opsi ini belum banyak diperhitungkan karena dapat mengerek harga jual produk.

Sumber : https://www.tab-packaging.co.id/